00
Days
00
Hrs
00
Min
00
Sec
Submit Your Paper

Trap Success of House Rat (Rattus Tanezumi Temminck) Around The IPB Darmaga Campus, Bogor, West Java, Indonesia

Authors

Swastiko Priyambodo

Dept. of Plant Protection, Fac. of Agriculture, IPB University, Jl. Kamper, Campus IPB Darmaga, Bogor, West Java, Indonesia 16680 (ID)

Nanda Qurrotul Uyun

Dept. of Plant Protection, Fac. of Agriculture, IPB University, Jl. Kamper, Campus IPB Darmaga, Bogor, West Java, Indonesia 16680 (ID)

Dadan Hindayana

Dept. of Plant Protection, Fac. of Agriculture, IPB University, Jl. Kamper, Campus IPB Darmaga, Bogor, West Java, Indonesia 16680 (ID)

Article Information

DOI: 10.51583/IJLTEMAS.2025.1411000064

Subject Category: Urban Pest Management and Biology of Rodent

Volume/Issue: 14/11 | Page No: 703-714

Publication Timeline

Submitted: 2025-12-09

Published: 2025-12-09

Abstract

Trapping rats has become a practical and environmentally safe method of control as well as monitoring the presence of rats in a place. The study aims to determine the presence of house rats (Rattus tanezumi Temminck) and the trap success rate around the IPB Darmaga Campus, Bogor, Indonesia, using a single live trap. There were 10 traps installed incrementally over 3 consecutive nights at 10 locations both indoor and outdoor. The number of rats caught, the number of rat footprints, the size and sex of the rats, and the location of the trapped rats became an observed parameter. The results showed that house rats around the IPB Darmaga Campus caused damage to facilities, physical appearance, faeces, and urine odor. The trapping success around the IPB Darmaga Campus from 300 trappings reached 9%, which is 3.67% of trapped rats remained in traps and 5.33% rats escaped from traps. The trapping success was affected by trap shyness by 72.16%.

Keywords

Presence of rat, single live trap, trap shyness

Downloads

References

1. Armando R. 2016. Pengaruh kondisi habitat kelapa sawit (Elaeis guineensis JACQ) terhadap artropoda dan hama tikus [tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. [Google Scholar] [Crossref]

2. Arrasit F, Wahyuni D. 2022. Higiene sanitasi terhadap keberadaan vektor tikus di RT. 02 RW. 03 Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Tahun 2021. Jurnal Sains dan Kesehatan. [diakses 12 Mar 2023]; 12(2):133-140. doi:10.37859/jpv12i2.3618 [Google Scholar] [Crossref]

3. Astuti DR. 2013. Keefektifan rodentisida racun kronis generasi II terhadap keberhasilan penangkapan tikus. J Kesehatan Masyarakat. [diakses 12 Mar 2023]; 8(2):183-189.doi:10.15294/kemas.v8i2.2820 [Google Scholar] [Crossref]

4. [Balitbangkes] Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2015. Pedoman Pengumpulan Data Reservoir (Tikus) Di Lapangan. Jakarta: Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. [Google Scholar] [Crossref]

5. Ikhsan M. 2017. Keberhasilan beberapa jenis perangkap dalam memerangkap tikus permukiman di Bogor [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. [Google Scholar] [Crossref]

6. Irawati J, Fibriana AI, Wahyono B. 2015. Efektivitas pemasangan berbagai model perangkap tikus terhadap keberhasilan penangkapan tikus di Kelurahan Bangetayu Kulon Kecamatan Genuk Kota Semarang tahun 2014. Unnes journal of Public Health. [diakses 9 Mar 2023]; 4(3):67-75. doi: 10.15294/ujph.v4i3. 6374 [Google Scholar] [Crossref]

7. Ivakdalam LM. 2014. Uji keefektifan enam jenis perangkap dalam pengendalian tikus sawah (Rattus argentiventer). Jurnal Agribisnis Kepulauan [diakses 12 Mar 2023]; 2(2):38-46. https://ejournal.unpatti.ac.id/ppr_iteminfo_lnk. php?id=997 [Google Scholar] [Crossref]

8. Junianto DS, Siwiendrayanti A. 2015. Perbandingan jumlah tikus yang tertangkap antara perangkap dengan umpan kelapa bakar, ikan teri, dengan perangkap tanpa umpan (studi kasus di wilayah kerja Puskesmas Pandanaran). Unnes Journal of Public Health. [diakses 28 Feb 2023]; 5(1):67-74. doi: 10.15294/ujph.v5i1.9708 [Google Scholar] [Crossref]

9. Khoirunnisa R, Siwiendrayanti A. 2020. The difference of lured rat number between uncombined and combined bait trapping. Unnes Journal of Public Health. [diakses 10 Juni 2023]; 9(1):28-33. doi: 10.15294/ujph.v9i1.32571 [Google Scholar] [Crossref]

10. Kusumajaya A, Utomo B, Hikmandari H. 2020. Tikus pada daerah kasus leptospirosis (studi tentang tikus dan lingkungan pada daerah kasus leptospirosis di Kabupaten Banyumas). Buletin Keslingmas. [diakses 28 Feb 2023]; 39(3):111-120. doi: 10.31983/keslingmas.v39i3.4481 [Google Scholar] [Crossref]

11. Latifah DA, Rachman A, Mardiana, Yuliana, Nur R, Mahmud NK, Badriansyah AFA, Bodang SM, Abdullah A, Said, M. 2023. Promosi K3 tentang penggunaan alat pelindung diri pada pekerja pest control di CV. Pestex Indone-sia. ABDIMAYUDA: Indonesia Journal of Community Empowerment for Health. [diakses 5 Mar 2023]; 2(1):8-13. doi: 10.19184/abdimayuda.v2i1. 350-13 [Google Scholar] [Crossref]

12. Lestari E, Kesuma AP, Djati AP. 2017. Studi kasus leptospirosis di Kecamatan Mijen Kabupaten Demak. Jurnal Medsains. [diakses 26 Feb 2023]; 3(1):23-28. https:// www.jurnal.polibara.ac.id/index.php/medsains/article/ view/52 [Google Scholar] [Crossref]

13. Manyullei S, Birawida AB, Suleman IF. 2019. Studi kepadatan tikus dan ektoparasit di pelabuhan laut Soekarno Hatta tahun 2019. Jurnal Nasional Ilmu Kesehatan. [diakses 3 Mar2023]; 2(2):100-108. https://journal. unhas.ac.id/index.php/jnik/ article/view/7970/4579 [Google Scholar] [Crossref]

14. Mulyana AN. 2017. Keberhasilan pemerangkapan tikus dengan tiga jenis umpan pada habitat luar rumah di Dramaga, Bogor [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. [Google Scholar] [Crossref]

15. Pramestuti N, Widiastuti D. 2015. Infeksi telur cacing pada tikus rumah (Rattus tanezumi) di areal permukiman. Jurnal Buski. [diakses 5 Mar2023]; 5(3):121-125. doi: 2435/buski.v5i3.4486.121-125 [Google Scholar] [Crossref]

16. Priyambodo S. 2006. Tikus. Dalam: Singgih H S dan Upik K H, editor. Hama Permukiman Indonesia. Bogor (ID): Unit Kajian Pengendalian Hama Pemukiman (UKPHP). [Google Scholar] [Crossref]

17. Priyambodo S. 2009. Pengendalian Hama Tikus Terpadu. Ed ke-4. Jakarta (ID): Penebar Swadaya. [Google Scholar] [Crossref]

18. Priyanto D, Raharjo J, Rahmawati R. 2020. Domestikasi tikus: kajian perilaku tikus dalam mencari sumber pangan dan membuat sarang. Balaba: Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara, [diakses 5 Mar 2023]; 16(1):67-78. doi: 10.22435/blb.v16i1.2601 [Google Scholar] [Crossref]

19. Priyatomo CY, Santoso L, Martini, Hestiningsih R. 2015. Studi kepadatan tikus dan ektoparasit di daerah perimeter dan buffer Pelabuhan Laut Cilacap. Jurnal Kesehatan Masyarakat. [diakses 20 Mei 2023]; 3(2):86-96. doi: 10.14710/jkm.v3i2.11874 [Google Scholar] [Crossref]

20. Ramadhani NP, Rahayu U, Thohari I. 2018. Analisis kondisi rumah sekitar penderita leptospirosis di Kota Surabaya tahun 2018. Gema Kesehatan Lingkungan. [diakses 10 Mar 2023]; 16(2):139-147. doi: 10.36568/kesling.v16i2.827 [Google Scholar] [Crossref]

21. Saragih RKP, Martini, Tarwatjo U. 2019. Jenis dan kepadatan tikus di Panti Asuhan “X” Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat. [diakses 20 Mei 2023]; 7(1):260-270. doi: 10.14710/jkm.v7i1.22880 [Google Scholar] [Crossref]

22. Siregar FS. Keberhasilan pemerangkapan tikus dengan tiga jenis umpan pada habitat rumah di Dramaga, Bogor [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. [Google Scholar] [Crossref]

23. Suciananda P. 2016. Uji perangkap, rodentisida, dan repelen, serta persepsi masyarakat dalam pengendalian tikus permukiman di Dramaga, Bogor [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. [Google Scholar] [Crossref]

24. Supriyati D, Ustiawan A. 2013. Spesies tikus, cecurut, dan pinjal yang ditemukan di Pasar Kota Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara tahun 2013 [internet]. J Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara. [diakses 7 Mar 2023]; 9(2):39-46. doi: 10.22435/blb.v9i2.822 [Google Scholar] [Crossref]

25. Sutikno A, Rasyad A, Amin A, Mahatma R. 2020. Persepsi masyarakat kota Pekanbaru terhadap gangguan hama permukiman. JIP (Jurnal Industri Perkotaan). [diakses 20 Mar2023]; 16(28):1-9. doi: 10.31258/jip.16.2.1-8 [Google Scholar] [Crossref]

26. Syamsuddin. 2007. Tingkah laku tikus dan pengendaliannya. Di dalam: Saenong MS, editor. Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVIII Komda Sul-Sel dan Balai Karantina Tumbuhan Kelas 1; 2007 Nov 24; Makassar, Indonesia. Makassar: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan. hlm 179-185. [Google Scholar] [Crossref]

27. Wahyuni D. 2022. Higiene sanitasi terhadap keberadaan vektor tikus di RT. 02 RW. 03 Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis tahun 2021. Photon: Jurnal Sain dan Kesehatan. [diakses 7 Mar 2023]; 12(2):133-140. doi: 10.37859/jp.v12i2.3618 [Google Scholar] [Crossref]

28. Widayani HA, Susilowati S. 2014. Identifikasi tikus dan cecurut di Kelurahan Argasoka dan Kutabanjanegara, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara, Tahun 2014. Balaba. [diakses 15 Mar2023]; 10(1):27-30. doi: 10.22435/blb. v10i01.751 [Google Scholar] [Crossref]

29. Yuliadi, Muhidin, Indriyani S. 2016. Tikus Jawa, Teknik Survei di Bidang Kesehatan. Risyanto, Ahmadi AS, editor. Jakarta (ID): Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI. [Google Scholar] [Crossref]

30. Yulianto B, Candra L. 2019. Kondisi fisik rumah dan sisa makanan terhadap keberadaan vektor tikus di Kelurahan Sukajadi Kecamatan Sukajadi Kota Pekanbaru. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. [diakses 10 Mar 2023]; 8(1):41-47. https://jurnal. stikes-alinsyirah.ac.id/kesmas/article/view/131 [Google Scholar] [Crossref]

Metrics

Views & Downloads

Similar Articles

© 2026 IJLTEMAS · RSIS International. All rights reserved. ISSN 2278-2540.